Jumat, 02 November 2018

Kamu

Aku tak perna ingin tau bagaimana rencana tuhan.
Bahagia atau duka.
Aku tau bahwa tuhan telah mengaturnya dengan baik.

Namun kali ini, aku ingin tau apa rencana tuhan.
Aku ingin tau bagaimana jalannya kehidupanku kelak.
Bagaimana jadinya kita.

Aku banyak memikirkan hal.
Kamu salah satunya.
Bagaimana kita akan menjalani hari hari berikutnya.
Tiap menit yang terlewat sungguh seakan mencekik.
Bahagia yang terasa, akankah ia singgah?

Aku takut akan banyak hal.
Kehilanganmu, salah satunya.
Sampai aku lupa, bahwa tuhan lah yang seharusnya aku beri ketakutkan ku.

Kala memikirkan mu di waktu sengangku.
Sungguh rasanya membuatku ingin tau.
Apakah tuhan mengariskan takdir kita dalam satu jalan?
Apakah tuhan kali ini sedang memberikan aku hadiah dengan menghadirkanmu?
Apakah tuhan ingin mempertemukan ku dengan yang baik agar kelak aku tau, bahwa aku berhak untuk mendapatkan yang lebih baik.

Jumat, 29 Juni 2018

Sekiranya... ini sedikit tentangmu

"Mengapa belum ada tentangku dalam tulisanmu?"

Tuan..
Ketahuilah aku pun ingin menulis tentangmu.
Hanya saja, aku belum berhak untuk menuangkan sedikit tulisan yang berhubungan denganmu.

Aku tak ingin menghianati Allah dengan lebih menaruh harap dengan ciptaannya.
Aku hanya takut, bila kelak tulisanku hanya membawa ku dalam kesedihan yang tak sepantasnya.

Pernah salah ada salah satu novel milik Bernard Batubara yang ku baca.
“Aku tidak bersepakat dengan banyak hal, kau tahu. Kecuali, kalau kau bilang bahwa jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri. Untuk hal itu, aku setuju.” –Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri, hlm. 252

"Kamu tau maksud dari itu?"

Aku tau, kamu telah menaruh janji padaku.
Yang hingga detik ini masih ku ingat jelas bagaimana ucapmu kala itu.
Namun, bukankah Allah maha membolak-balikkan hati manusia?
Dan aku tak ingin menaruh harap lebih untuk ketidakpastian itu.

Bukankah dalam agama ku dan agama mu bila kita jatuh cinta kita di haruskan untuk segara menghalalkannya.
Seperti yang di katakan dalam : Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur (24) : 32).

Tuan...
Kita terjebak dalam dosa yang di buat indah oleh Syetan.

Tak usah gusar.
Aku masih menunggumu, hingga Allah mengatakan "Cukup untuk mu menunggu dalam ketidakpastian dan berbahagialah sekarang" atau mungkin "Ada seseorang yang lebih baik untukmu yang sudah ku simpan, maka berbahagialah"
Aku tak tau apa yang akan terjadi didepan nanti.

Bila sekiranya kamu yang Allah pilihkan untukmu.
Semoga kelak kamulah yang terbaik untukku.
Semoga kelak kamulah sebaik-sebaiknya imam untukku dan anak kita nanti.
Tak perduli susah, sedih ataupun rintangan yang kita hadapi nanti.
Percayalah, aku akan terus di sampingmu.

Minggu, 15 Januari 2017

Kamu.

Teruntuk,
Patner in crime.

Ah
Kamu pasti lupa atau bahkan tak tau untuk siapa gerangan tulisan ini.
Maaf bilang membingungkan, namun bersediakah kamu membacanya?

Ku anggap iya, bila kamu sudah membaca tulisan ini.

Hai.
Apa kabar?
Dari sekian banyak kata, aku bingung harus memulainya dari mana.

Mungkin dari, rengangnya hubungan kita.

Hai, satu hal yang hal pintaku yang ingin kau tau.
Bila nyatanya aku terlihat baik-baik saja seakan tak perduli.
Percayalah harusnya kamu bisa lebih tau daripada siapapun.
Bila nyatanya disini bukan hanya aku yang merasa seperti di tikam oleh seribu jarum, bisakah jelaskan apa yang kau rasakan?

Rasanya seperti orang dungu.
Aku mungkin manusia paling bodoh yang sulit untuk tau dimana letak salahku.
Aku mungkin bukanlah manusia menyenangkan yang bisa kau andalkan.
Atau mungkin, aku tak sebaik yang terlihat namun nyatanya aku hanya sebuah tomat busuk.

Aku selalu bertanya.
Apa sebenarnya yang membuat kita seperti ini?
Dahulu, kita berjanji. "Apapun yang terjadi harus saling berbicara dan menegur"

Rasanya, sekarang sudah tak penting ya?
Kamu mungkin terlalu lelah untuk menegurku, dan aku terlalu bodoh untuk menyadari nya.

Ah.
Bila kelak, suatu saat kita berbicara lagi.
Bisakah kamu jelaskan?

Hai, untuk semua kata-kata yang selama ini bersembayang di otakku.
Aku hanya ingin menyingkirkannya.

Namun,
Aku lebih merindukanmu untuk segala hal.
Sebab, kamu bukanlah orang yang ku anggap lalu lalang.
Aku tau, aku bodoh bukan?
Aku egois.
Dan, aku malu untuk bertanya.

Hai, hari ku, malam ku atau semua hal tentangku.
Seakan berubah.

Kerap kali, aku mencoba kerap kali juga aku mundur dengan amat tertibnya.

Aku mungkin sedikit cemburu.
Sebab,
Bukan aku lagi yang menjadi tempat curahan hatimu.
Sebab,
Bukan aku lagi yang berada disampingmu
Dan sebab, tawa mu dan sedihmu bukan aku lagi yang menjadi sandarannya.

Baik-baik Ya.
Jaga kesehatan, jangan sering begadang.
Minum vitamin.
Aku sayang kamu.

Maaf bila aku hanya bisa menulisnya tanpa engan mengatakanny
a.

Jumat, 23 Desember 2016

Merindumu.

Aku merindukanmu..

Seperti sang burung yang membutuhkan sang induk. Aku membutuhkanmu.

Ah, terasa menyakitkan.
Kerap kali sang ego terlalu mendominan.
Kerap kali sang ego membuat semua semakin jauh.
Semakin sulit untuk digapai.

Kala.
Aku ingin sekali mengirimi mu sebuah pesan singkat.
Sekedar menanyakan bagaimana kabarmu.

Namun, rasanya sulit.

Apa kita akan terus berdiri ditempat ini?
Kau yang jauh disana sedangkan aku yang hanya bisa berdiam diri disini?

Atau, apakah ini sudah batas untuk semua berakhir?

Begitu banyak pertanyaan bodoh.
Begitu berkecambuk pikiran menyebalkan.

Aku hanya ingin dirimu.
Seperti sedia kala.

Walau keadaan tak sama.
Bisakah kita berdamai untuk diri masing-masing?

Luka..

Luka itu..
Ku pikir aku sudah menjadi sahabatnya.
Sahabat seorang luka?
Bodoh.

Aku menyukai saat sendiriku.
Saat dimana semua menjadi satu.
Menyebalkan, namun aku menikmatinya.. seakan tiada hari esok.

Aku terlalu terbelenggu.

Aku menatap nanar pantunlan diriku.
Begitu mengenaskan.

Malam.. Sunyi.. dan sendiri.
Entah mengapa sebuah lubang hitam yang betah ku tinggali.

Terlintas sebuah pertanyaan yang selalu ingin ku ketahui jawabannya.

"Tuhan, kapan ini berakhir?"

Gadis ini terlalu rapuh untuk sekedar membangun kembali semua yang hancur.
Atau, gadis ini hanya tak tau bagaimana membangun?

Selasa, 22 November 2016

Kamu, terlalu bodoh..

Kamu bodoh!
Kamu tau bahwa aku bukanlah seseorang yang dapat membahagiakamu.
tetapi, kamu masih tetap menungguku. Di tempat yang sama yang engan untuk ku datangi.

Kamu tau betul, bahwa aku terlalu egois untuk mencintai hal-hal mustahil.
namun lagi-lagi, kau tak berlari dari ku: Kau menetap.

Entah apa yang harus ku katakan padamu, namun pertanyaan ini selalu berputar dalam otakku
"Apa kau tak lelah menantiku?"
bila saja aku bisa membuka hatiku, aku tak ingin membuatmu menunggu.
Aku ingin sekali berlari ke arah mu dan memelukmu, dan mengatakan: "Maafkan aku yang membuatmu menunggu begitu lama".
Namun tak ada satupun yang dapat aku lakukan.

Aku tau.
aku terlalu egois.
bisa kau biarkan saja aku seperti ini?

Sebab, bila aku terus saja memberimu ruang untuk berusaha bukankah sama saja aku menyakitimu?
"berhentilah, ku mohon.."

aku bukanlah seorang wanita dengan paras cantik.
aku bukanlah seorang wanita dengan kepribadian baik.
dan, semua perihal tentangku yang kau ketahui, percayalah tak semua sama.

Berhentilah menyakiti dirimu..
kau pantas bahagia.

Bila kelak kau dapat membaca tulisan usang ini, ku mohon mengertilah dengan apa yang ku lakukan saat ini.

Selasa, 22 Desember 2015

“When you were here before”


Aku tak mengerti, mengapa begitu banyak yang terjadi ketika kau meninggalkan seseorang yang t’lah lama bersamamu.
Mungkin ia mempunyai alasan dibalik kepergiaannya, mungkin ia mempunyai penjelasan yang enggan untuk diketahui. Namun, bisakah kita mengerti seakan semua memang sewajarnya saja terjadi ?
Memahami semua memang haruslah seperti ini.

Aku lelah berteman baik dengan semua pertanyaan yang tak ku ketahui jawabannya.
Aku lelah bersama dengan rindu yang kian hari membuncah untuk melihat mereka bersama seperti sedia kala.

Apa aku terlalu egois ketika ingin mereka bersama lagi?
Apakah rindu bisa membuat seseorang kehilangan sebuah akal sehatnya?

Berhentilah menghias diri seakan kau bagaikan sebuah kupu-kupu yang paling indah.
Namun, nyatanya kau hancur..
Kau berlubang dan penuh dengan luka yang kau kubur.


Kenangan selalu datang kala kau sendiri, berteman dengan sepi dan bersama air mata.