Selasa, 22 November 2016
Kamu, terlalu bodoh..
Kamu tau bahwa aku bukanlah seseorang yang dapat membahagiakamu.
tetapi, kamu masih tetap menungguku. Di tempat yang sama yang engan untuk ku datangi.
Kamu tau betul, bahwa aku terlalu egois untuk mencintai hal-hal mustahil.
namun lagi-lagi, kau tak berlari dari ku: Kau menetap.
Entah apa yang harus ku katakan padamu, namun pertanyaan ini selalu berputar dalam otakku
"Apa kau tak lelah menantiku?"
bila saja aku bisa membuka hatiku, aku tak ingin membuatmu menunggu.
Aku ingin sekali berlari ke arah mu dan memelukmu, dan mengatakan: "Maafkan aku yang membuatmu menunggu begitu lama".
Namun tak ada satupun yang dapat aku lakukan.
Aku tau.
aku terlalu egois.
bisa kau biarkan saja aku seperti ini?
Sebab, bila aku terus saja memberimu ruang untuk berusaha bukankah sama saja aku menyakitimu?
"berhentilah, ku mohon.."
aku bukanlah seorang wanita dengan paras cantik.
aku bukanlah seorang wanita dengan kepribadian baik.
dan, semua perihal tentangku yang kau ketahui, percayalah tak semua sama.
Berhentilah menyakiti dirimu..
kau pantas bahagia.
Bila kelak kau dapat membaca tulisan usang ini, ku mohon mengertilah dengan apa yang ku lakukan saat ini.
Selasa, 22 Desember 2015
“When you were here before”
Mungkin ia mempunyai alasan dibalik kepergiaannya, mungkin ia mempunyai penjelasan yang enggan untuk diketahui. Namun, bisakah kita mengerti seakan semua memang sewajarnya saja terjadi ?
Memahami semua memang haruslah seperti ini.
Aku lelah berteman baik dengan semua pertanyaan yang tak ku ketahui jawabannya.
Aku lelah bersama dengan rindu yang kian hari membuncah untuk melihat mereka bersama seperti sedia kala.
Apakah rindu bisa membuat seseorang kehilangan sebuah akal sehatnya?
Namun, nyatanya kau hancur..
Kau berlubang dan penuh dengan luka yang kau kubur.
Kamis, 17 Desember 2015
Wanita yang selalu terbang bebas
Minggu, 29 November 2015
Lelaki yang menunggumu
Menanti dengan jarum yang berjalan namun tak beranjak.
Menit demi menit berjalan, namun terasa terhenti tak berdetak.
Entah sudah berapa gelas kopi yang ku habiskan
Namun menunggumu adalah sebuah hal yang menyenangkan
Aku seperti kehilangan waktuku
Aku seperti kehilangan sebuah hal yang seringkali ku lakukan.
Dengan menunggumu, aku tahu bahwa kau pulang dengan keadaan baik-baik saja
Namun, ketika ku melihatmu bersama dengan lelaki lain.
Hatiku rasanya teriris, seperti sebuah pisau menyahat hatiku.
Dunia ku runtuh
Hatiku hancur
Bumiku tak berpijak
Untuk pertama kalinya, aku enggan menunggumu
Untuk pertama kalinya, aku berhenti menunggumu
Sebuah rasa yang engan terusir
Membuat sebuah bukit yang seakan menyajikan keindahan namun berkabut.
Jangan tanya, mengapa aku memberikannya. Karena cinta tak bisa terjabar dengan begitu saja.
Membuatku menikmati penyakit yang perlahan membunuh jiwa.
Membuatku tau akan hal lain selain kebahagiaan.
Sebuah bising siap kapan saja menyapa.
Sebuah bising siap kapan saja mengacau.
Senin, 19 Oktober 2015
Sang hati yang lelah..
Senin, 06 Juli 2015
Lukamu.
Sewaktu atau mungkin sesekali.
Hatimu mungkin perna terjatuh di lubang yang terlalu dalam.
Hingga rasanya untuk merangkak keluarpun kau sulit.
Pengap... menyesakkan... dan gelap.
Merontah-rontah untuk mencoba keluar.
Namun sayang, tak seorangpun mendengarmu.
Hatimu terlalu hancur, hingga lukamu melebur menjadi kepingan kaca yang sulit diperbaiki
Kau tersenyum, namun sayang tak ada senyum manis yang terukir indah diwajahmu. Melainkan senyum menyedihkan yang mewakili rontahan hatimu.
Aku tau, kamu mencoba untuk menjadi kuat.
Aku tau, kamu mencoba membuat seakan semua baik-baik saja.
Aku ingin bertanya.
Apakah bisa, ketika kau tersenyum namun hatimu teriris?
Apakah bisa, ketika kau membuat semua seakan baik-baik saja padahal hatimu hancur.
Berlarilah kearahku.
Berdiamlah didalam pelukku.
Tumpahkan saja semua yang kau rasa.
Berbagilah denganku bila kelak kau tak sanggup menahannya sendiri.
Barangkali, aku bisa selalu menjadi tempat sandaranmu kelak ketika kau butuh nanti.